Dear Kaka Dede…

Jam menunjukkan pukul 05.30 ketika mobil ayah mulai dinyalakan untuk dipanaskan. Ayah harus berangkat pagi sekali bila tidak mau terjebak macet dan terlambat sampai di kantor. Bunda mengantarkan ayah di pintu sambil menggendong adek yang masih dalam usia menyusu. Kakak pun menggandeng tangan Bunda sambil terus mengajak bicara sang ayah. Ayah yang tergesa dan khawatir terlambat hanya menimpali sesekali. Itu pun ketika kakak sudah menanyakan hal yang sama berulang kali hingga membuat ayah bosan dan mulai merasa terganggu.

Jam 05.45 ayah pun berangkat ke kantor. Kakak dan adik menghabiskan waktu bercengkrama dengan bunda sepanjang hari. Bunda melakukan semua pekerjaan rumah sambil mengasuh kakak dan adik. Makanan bergizi pun terhidang. Baju tercuci dan tersetrika rapi. Rumah bersih dan wangi. Lalu bunda mengajarkan kakak membaca dengan telaten sambil menyusui adik. Malam pun tiba, Bunda dengan penuh kasih sayang menutup kegiatan hari ini dengan berkisah untuk kakak dan adik yang mulai mengantuk.

Tiba-tiba terdengar bunyi pagar rumah yang dibuka dan derum suara mobil ayah memasuki halaman. Anak-anak pun berlarian ke depan menyambut ayah.

“Ayah, kakak tadi diajari membuat pesawat oleh Bunda. Ayo Yah kita main, kakak sudah tunggu Ayah dari tadi”.

Ayah menjawab,”Sama bunda saja yah mainnya, ayah lelah sekali. Sekarang ayah mau mandi dan langsung istirahat. Jangan ganggu ayah yah, ayah kan seharian kerja cari uang untuk kalian.”

Kakak pun menggandeng bunda dan minta bunda menyimpankan pesawatnya sambil berkata,”Bunda, ayah capek yah cari uang untuk kita? Kalau begitu kakak main sama ayah hari Ahad saja yah Bun, kalau ayah sedang tidak bekerja.”

Ahad pun tiba. Ayah sudah mandi dan rapi di pagi hari. Melihat ayah sudah rapi, Kakak yang terlambat bangun langsung minta diambilkan pesawat untuk mengajak ayahnya bermain. Namun ayah berkata,”Mainnya sama bunda saja yah Nak, Ayah ada janji reuni dengan teman-teman ayah.Nanti pulang ayah belikan mainan pesawat yang bagus untuk kakak.”

“Asiiik, nanti kita main ya Yah…” seru Kakak.

Ayah pun menyahut,”Sepertinya ayah akan pulang malam hari ini, Kak. Mainnya besok sama Bunda saja yah. Yang penting, besok pagi ketika kamu bangun tidur, mainan pesawat yang baru dan bagus sudah ada di meja belajarmu.” Kakak pun mengangguk. Entah apa yang ada di hatinya…

——-

Baca tulisan ini, jam di hp 21.00. posisi saya di luar rumah. Inget bbm istri: ditanyain ma dede mo maen bola, langsung tancap gas balik, tinggalkan aktivitas absurd.

Ya, sebelum jalan atau selepas sampe rumah sore tadi, Dede Alvien emang ngajak maen bola. Demi maen sama dede di dalem rumah, sholat maghrib telat, jam 18.30 WIB.

Alvien memang suka bener maen bola. Dan udah lama ga lagi maen bola. Mungkin karena punya bola baru, alvien ngajak untuk maen si bola bundar dari plastik itu.

Ya keingetan BBM istri dan abis baca tulisan di atas, saya langsung balik. Seperti tanpa rem, maen geber di jalanan yang banyak lubang. Dengan pandangan mata yang sudah tak lagi sempurn, nyaris ngehantam orang yg lagi gerobak di jalanan gelap.

Dan dups! Pas sampe rumah, ga ada suara kaka-dede manggil sambil lari ke arah saya, seperti yang mereka lakukan. Setelah keduanya meluk, mereka kembali ke aktivitas atau tempat semula. Kali ini, ga ada cerita itu. Langsung menuju kamar, oh Gusti, mereka udah tidur, sudah di alam mimpi. Mungkin saja, dede memimpikan kehebohannya maen bolanya sama ayahnya yang terlanjur sok sibuk…

Darah seperti berhenti liat mereka tidur. Lungse, lemes, dan kecewa! Maafi ayah, dede-kaka!

——-
Ga ngopi item dulu