Di era digital, Surga itu murah…

Fenomena era digital, disadari atau tidak sudah merasuki ke lingkungan terkecil, seperti keluarga, bahkan menerobos sendi-sendi tubuh kita.  Ber-gadget ria, mengalahkan aktivitas apapun.  Bahkan, saat bangun tidur, yang pertama kita cari adalah gadget. (Ini berdasarkan pengalaman).

Dari sekian banyak fasilitas yang ada di smartphone, aplikasi socmed (twitter dan facebook) dan blackberry massenger atau BBM. Dua aplikasi itu, kalo ada yang iseng nyurpei, bisa ada diurutan pertama ketimbang aplikasi lainnya.

Socmed sendiri, aplikasi facebook lebih banyak dipakai ketimbang jejaring sosial lainnya. Mungkin facebook lebih mudah untuk mendapatkan teman ketimbang di twitter. Di facebook, asal kita add pertemanan, pasti akan terkoneksi. Sementara di twitter, meskipun kita pollow akun temen/lain, belum tentu dia pollow back.

Nah di facebook, saya kadang dibuat ngikik terkencing-kencing dengan postingan akun personal atau page. Mereka seperti sedang mendagangkan surga dengan modal poto. Dengan mencantumkan poto yang gambarkan sesuatu yang tidak lazim, si pemilik akun itu, kadang membubuhi kalimat: silakan like, sharing atau aminkan, mudah-mudah kita masuk surga.

Jengjeng… Murah sekali surga di era socmed ini. Cukup dengan like dn sharing postingan atau nulis amin bisa dapet surga. Padahal di saat yang sama, kita lupa jalankan kewajiban, seperti sholat.

Ada lagi yang konyol, di BBM. Dapet kiriman Broadcaste (BC) mereka sebar lagi. Isi BC itu dari iming-iming surga sampai ancaman akan mendapatkan bahaya sampai pada kematian. Lagi-lagi, bisa jadi pada saat menyebar info via BC itu, kita lalaikan sholat, atau abis mabok dan hamili anak orang.

Fenomena saya menangkap ada dua point. Yang pertama, semakin maju digital, koq semakin banyak aja yang bego. Katanya kita megang smartphone, tapi pada saat yang sama kita justru stupidphone.

Yang kedua, ini yang paling dikhawatirin. Maklum aja, remaja hari ini ga sedikit mentalnya ababil, lebay dan galau. Jadi asal ikut-ikutan, dan ajakan semacam itu jadi fatwa atau sesuatu pembenaran.

Efeknya, kita hanya cukup BC, like, sharing dan nulis amien bisa masuk surga. Sementara apa yang menjadi kewajiban, kita tinggalkan, apa yang menjadi larangan kita tabrak. Trus muncul stigma: ga perlu ibadah utk dapet surga, cukup bersocmed dn sebar BC suraga.

Dalam logika waras saya, kalo gitu cerita, ngapain juga Nabi capek-capek ibadah, harus dapet ancaman dn teror dari kaum musyrik untuk mengajak kebaikan.

So, Surga dan pahala itu tidak ditentukan oleh seberapa banyak kita BC di BBM atau share, like atau tulis amien. Tapi seberapa hebat kita menjaga kewajiban kita, dan sekuat apa kita menghidari yang jadi larangannya.

—–
sholat maghrib dulu, baru ngopi yuk…