air mata dan kaos kaki ultah

Entah, sakitnya dimana ketika liat air mata Getsa Alleysa Azra berlinang sambil merapikan kaos kaki di teras kostan jelang berangkat sekolah? Apa yang dialami Kaka, panggilan Getsa, membayangkan 30 tahun lalu waktu saya masih duduk di SD. Sekolah dengan (kadang) tanpa tas, kaos kaki bolong, tali sepatu kadang hasil babat sepatu lain yang ga terpakai. Saat berangkay sekolah, tak ada rasa minder atau malu. Namun sesampai di sekolah, kadang bullying dari temen-temen kerap saja terjadi. Hemmm liat Kaka yang nangis tanpa suara, bikin menarik nafas panjang. Saya yg semula duduk di kursi rotan, langsung pindah posisi ke lantai sejajar dengan Kaka, sambil merayu untuk menghentikan tangisnya dan pulang sekolah belanja. Kaka, yang hari ini genap tujuh tahun, entah sadar atau karena sudah dewasa, dia memeluk. Katanya: sebelum ke sekolah, ke alfa dulu ya yah, mau beli cokelat | dengan suara yang masih tertahan, saya setujui kemauan dia untuk beli cokelat. Meskipun haqul yaqin dia lupa kalo hari ini dia ultah. Jam 6.45, seperti biasa saya antar Kaka ke sekolah. Dan sepeerti biasa si bungsu (kalau udah bangun), ikut sibuk ambil tas dan berebut tempat duduk di motor. Sesuai janji, sebelum sampai sekolah, mampi dulu di minimarket, yups masih dengan dendam. Kaka dibebaskan mau beli apapun. Sementara dede sibuk milih makanan kesukannya, ager jelly. Tapi Kaka tetep dengan janjinya, dia cuma ambil cokelat. Sempet juga ngajak dia cari kaos kaki untuk ganti kaos kakinya yang bolong yang bikin dia nangis di teras sebelum berangkat. Sayang, kaos kaki yg ada untuk dewasa. “Nanti setelah pulang sekolah, kita pasar ya. Kaka bisa milih kaos kaki apapun,” kata saya. Kaka menyetujui. Jam 7,00 udah lewat. Tancap gas ke sekolah kaka yang cuma beberapa menit saja. Alamak, gerbang udah dikunci. Di halaman sekolah ratusan anak-anak dalam posisi siap upacara bendera setiap senin. Sementara di luar gerbang, ada belasan siswa yang terlambat masuk, termasuk Kaka. Setelah salaman, saya putuskan untuk cepat balik kanan. Meskipun pandangan Dede masih tertuju ke belasan siswa yang ada di balik gerbang. Demikian juga Getsa, seperti ada bimbang untuk dilepas. Dari spion motor, dia masih melihat adek dan ayahnya pergi. “Kaka pasti kena sanksi. Karena keterlambatan masuk ikut apel, harus disanksi sebagai disiplin,” pikirku. Sampe rumah, ketemu istri. Ceritakan apa yang terjadi. Semula, kita sepakat untuk tidak memanjakan getsa dengan belanja apapaun. Namun setelah kejadian itu, usul istri untuk beli minuman ringan, seperti temen2 getsa saat ultah, akhirnya diaminu. Jam 11.00 kita sepakati datangi Getsa di sekolah, bawa minuman dan makan untuk kaka. Rasa pilu melihat sikap pagi tadi, tidak terpancar di wajah Getsa siang ini. Dia justru terlihat enjoy belajar dengan teman-temannya. Getsa sempat keluar kelas, dengan manja dia memelukku lagi. Entah apa yang dirasakan Getsa saat itu. apapun, selamat ulang tahun ketujuh Kaka. Doa ayah di nadimu… Love & Kiss for you Nak dengarlah bicara bapakmu Yang kenyang akan hidup terang dan redup Letakkan dahulu mainan itu Duduk dekat bapak sabar mendengar

Kau anak harapanku yang lahir di zaman gersang Segala sesuatu ada harga karena uang Kau anak dambaanku yang besar di kancah perang Kau harus kuat yakin pasti menang

_________ kopi itemnya kibur