20 tahun ku kenang kau, Ayah…

Bulan Maret ini menjadi bulan sejarah bagi saya. Di bulan ini, ayah pergi untuk selamanya. Saat itu pula, ibu harus mengurus saya, kakak dan adek sendiri. Ayah pergi di tahun 1994 atau 20 tahun lalu… Waktu ayah pergi, saya masih duduk di bangku kelas 2 MTsN Bantarwaru. Sementara adek masih duduk di SD, dan kakak sudah SMA. Ada duka dan bahagia saat ayah pergi untuk selamanya itu. Rasa bahagia itu karena hanya dengan cara itu ayah bisa berhenti merasa sakit yang dideritanya selama 50 harian. Maklum saja, penyakit yang dialami ayah unik. Secara fisik, tubuh ayah terus mengalami penurunan. Setiap harinya ia harus menahan rasa sakit di bagian perutnya yang seperti ditusuk jarum dari berbagai arah. Namun beberapa kali dibawa ke RS, dokter selalu bilang, tidak ada masalah dan tidak ditemukan penyakit. Orang kampung bilang, penyakit yang ayah alami adalah akibat serangan santet dari seseorang yang tidak menyukainya. Semula saya tidak begitu percaya asumsi itu. Tapi, beberapa hari menjelang wafat, perut ayah sempah dibedah. Syahdan, dari dalam perut keluar air merah kurang lebih dua ember. Yang bikin miris, bukan saja air, tapi benda-benda tajam yang kerap diilustrasikan sebagai benda santet di film-film tv keluar dari perut ayah. Silet, paku, beling, gabah dan benda lainnya yang memiliki dampak sakit tusukan. Kondisi itu dialami selama 50 hari. Sulit dibayangkan, betapa pedihnya ayah menahan sakit yang diakibatkan benda2 itu dalam perut selama puluhan hari itu. Alhamdulillah, Tuhan Maha Baik. Dengan Engkau memanggilnya, sudah menghentikan rasa sakit dahsyat yang diderita Ayah. Untukmu ayah, aku merinduimu, sungguh! Selama 20 tahun ini, sudah sulit membuat sketsa wajahmu. Apalagi tak satupun foto wajahmu. Ibu selalu bilang, kalau mau liat ayah, bercerminlah nak! Alfatihah untukmu, ayah… Betapapun, ditinggal ayah adalah duka. Duka karena ketiadannya, duka karena hasrat untuk ngopi dn ngudud dari hasil gaji pertama kandas, dan duka menyaksikan ibu harus menjadi orang tua tunggal membesarkan dn membiayai anak-anaknya, yang saat itu ibu tak bekerja. Di sini saya melihat kehebatan ibu. Baru saja tuntas mengurus kakek bertahun-tahun (hingga wafat) karena sakit stroke, beliau harus ngurus ayah, pun hingga wafat. Ngurus kakek, yang usianya sudah sepuh, sakitnya stroke, dan pikun pula, bukan hal sepele. Tidak saja tenaga yang harus disiapkan, tapi stok kesabaran harus dipertebal. Dahsyat, ibu bisa melewati itu. Tuntas? Belum. Justru selepas ayah pergi, ibu harus banting tulang, putar otak biaya anak-anaknya. Ibu melakukan apapun sepanjang itu bisa menghasilkan uang untuk anak-anaknya. Satu yang sampai sekarang membuat saya trauma, ibu harus jadi tukang ojek. Memang tidak seperti ojek lainnya, ibu hanya mengantarkan tetangga untuk ke daerah lain dengan jarak tempuh sekitar 20 km. Itu dilakukan setiap pagi, sebelum saya sekolah. Ibu tidak pernah mengeluh. Meskipun dari raut wajahnya, terlihat betul betapa ibu kedinginan dan lelah. Kadang dalam obrolan, ibu suka cerita saat beliau antar tetangga itu. Pagi buta selepas shubuh, embun belum turun. Hanya dengan jaket seadannya, ibu menerobos gelap dan embun pagi. Kadang, saat dingin menyergap, ibu harus merasakan tetesan gerimis. Kalau sudah hujan, ibu harus berjibaku dengan jalanan tanah yang tidak layak digunakan. Itu semua, ibu lakukan demi mendapatkan Rp1500 sampai Rp2000 yang cukup untuk sarapan dan uang jajan sanaknya. Saat itu, untuk sekolah saya dibekali Rp200. Ya, ada trauma membayangkan apa yang dilakukan ibu. Beliau sungguh dahsyat dengan tanggung jawab sebagai orang tua, beliau rela melakukan itu. Trauma itu, ibu sudah menamparku untuk bangun dan melangkah. Gusti, sehat dan jaga ibu, di sana… Selepas MTs, saya ke Jakarta. Tujuannya satu, lanjutkan pendidikan. Pesantren Darunnajah Ulujami, ada program beasiswa, namanya Ashabunnajah. Mereka yang mau sekolah disana, tapi ga punya duit bisa ditampung. Syaratnya, bekerja (mengabdi) selama setahun di sana. Waktu itu yang saya kerjain, dari mulai bawa besi bangunan, tukan sapu kantor sekolah sampai penjaga kantin. Menikmati proses itu, tak sadar setahun berkahir. Berikutnya hak untuk belajar. Alhamdulillah, bisa mengenakan seragam putih abu-abu. Pakaian yang diperjuangkan, apapun resikonya. Bangga, menjadi bagian dari pelajar SMA di Jakarta. Oiya di Darunnajah itu, sebelum masuk tingkat SLTA, ada yang namanya kelas eksperimen atau kelas percobaan bagi mereka yang SMP-nya dari luar. Ini untuk adaptasi dengan pelajara lokal, yang banyak bahasa arab, inggris dan hafalan. Tapi beruntung, meskipun saya bego, tapi tidak melalui tahapan itu, langsung kelas IV atau kelas 1 MA. Tiga tahun berselang, lulus sudah menjadi anak SMA. Berikutnya lanjut di perguruan tinggi. Dan saya lanjutkan S1 di kampus yang ada di Darunnajah, STAIDA. Sempat menginap setahun di jenjang ini. Ketika yang lain 4 tahun wisuda, saya harus 5 tahun. Mungkin, karena pas masuk semeseter pertengahan-akhir saya “pindah fakultas” ke fakultas jalanan, demonstrasi. Tapi ga juga sik, dasarnya emang male hehehe 2005, Yes gelar sarjana itu diraih. Bukan gelarnya sik yang dicari, tapi bahagia melihat ibu menangis melihat saya pake toga diantara puluhan wisudawan lainnya. Dalam hati narsis, berkata, Anak kampung yang dibiayai hasil ngojek itu kini telah menyandang sarjana di Jakarta. Hehehe Saya pernah bilang, dari SMA sampai Sarjana, ibu tidak banyak membiayai pendidikan saya. Ibu sudah terlalu berat dan susah payah membiaya sekolah ade di SMA. Tapi pendidikan saya tidak akan sukses tanpa dua air dari ibu; air liur yang dikeluarkan dalam doa-doa panjang, dan air mata kesungguhan dalam doa. Alhamdulillah, dua air itu sudah saya buktikan dengan dua kali air mata kebahagian ibu keluar: saat lulus SMA dan saat wisuda… Allah-ku, ampuni Ayah dan tempatkan beliau di sisi-Mu. Illah-ku, jaga dan rawat ibu, rengkuh beliau saat sakit dalam peluk-Mu…  | __________ sore ini tanpa kopi