wartawan, di saat sepi menghampiri…

Wartawan juga butuh kesejahteraan. Ada seorang kawan pers yang pernah berkata: “menjadi wartawan saja tidak akan bisa kaya, kecuali jika nyambi wawancara sambil berwirausaha”.

Dan sama seperti buruh dalam puisi Teka Teki Yang Ganjil (Wiji Thukul), ada semacam kekuatan yang menyedot habis tenaga mereka tanpa mereka sanggup menikmati “kepuasan batin” dari liputannya yg dikonsumsi banyak orang karena telah disensor sana-sini dan juga dibayar murah..

Terkadang aku berpikir: wartawan-wartawan itu, di saat sepi menghampiri, apakah mereka sempat terbesit untuk meninggalkan pekerjaannya hanya demi suara hati yang memberontak?
Kebenaran itu tidak murah ya bung? Karena bila tidak beruntung, kita harus rela membayarnya melalui masa depan yg terancam atau maut berdasi pencabut nyawa. I can feel that. :’)

*merindukan masa di mana semua orang setara. Lalu kerinduanku makin membuncah kepadamu, Ratu Adilku..

__________________________

saya jadi wartawan dari 2006 lalu. baca tulisan mbak Fitri Nganthi Wani   putri mas Wiji Thukul di atas itu ya tetep merinding. sebegitu kah wartawan? kadang membela siapapun di tengah nasibnya tak terbela, memanusiakan siapapun meski hidupnya tak dimanusiakan, berjuang untuk siapapun meski kadang dirinya harus diperjuangkan. bahkan di saat yang sama wartawan dicap tidak ubahnya preman bayaran…

______

ngopi item di senja senin sembar membayangkan 3-5 tahun ke depan