Memaknai 34 tahun kelahiran

Kamis (24/4/2014) menjadi hari istimewa buat saya. Tidak saja bilangan angkanya serba 4 tapi hari pada ulang tahun kali ini sesuai dengan saat 34 tahun lalu, yaitu kamis.

Semakin istimewa, ketika selepas liputan, istri dan dua anak-anak hebat sudah menyiapkan kejutan, kue ultah yang sudah tertancap lilin. Di tempat sederhana, sebuah ruang kostan, dan dilakukan secara sederhana pula, lilin ditiup dan kue dibelah. Ada kebanggan, kehangatan dan keistimewaan hari ini bersama orang yang dicintai.

Kebahagiaan ini tidak lebih dari sekitar 5 jam. Hari ulang tahun diinterupsi dengan nominal Rp5.8 juta biaya daftar muka anak pertama masuk sekolah, yang jatuh tempo pada 25 April. Semulai, ini diabaikan dengan asumsi ini bisa dicil. Maka masalah inipun tuntas.

Keesokan harinya, 25 April, bareng anak-anak dn istri berangkat ke sekolah tempat Getsa belajar nanti. Dups, ternyata Rp5.8 juta itu tidak bisa ditawar alias harus lunas. Berjalan gontai keluar area sekolah setelah pamit dengan alasan nanti kembali lagi.

Logika waras, dalam beberapa menit mustahil dapetin Rp5.8 juta. Putar otak, otak diputar. Menghubungi kepala sekolah yang sudah akrab sebelumnya. Tujuannya minta kelonggaran waktu dan cicilan. Alhamdulillah permintaan dikabulkan. Artinya tinggal nyari DP.

Beberapa orang yang sebelumnya kerap minta bantuan, coba dihubungi, namun hasilnya nihil. Tentu saja, dengan aneka alasan dan cara halus.
Tentu saja hati berontak, tidak saja karena deadline, tapi sebegitu mahalkan makna “mutualisme”. Betul kata sahabat saya, lilin selamanya akan membakar diri demi dan untuk lingkungan yang terang. Namun bisikan “sabar” dalam usaha sepertinya semakin kuat. Dan inilah modal yang menjadikan saya tenang.

Solusi terakhir adalah pinjam “bank” sekedar untuk “absen” daftar ulang. Ini terpaksa dilakukan. Seumur hidup, ini yang pertama kali saya lakukan. Tapi buat anak, jangan utang dan air mata, darah sekalipun bisa ditumpahkan. Jika saja saya mati-matian untuk “membela” orang lain, adalah sakit keras jika untuk darah daging sendiri setengah hati.

Yang bikin saya nanar dan miris adalah, selain persesfsi “mutualisme” versi seenake perut, adalah seloroh orang-orang yang sepertinya menduakan pendidikan anak dan utamakan harta-benda.

Entah bisikan dari mana, tanpa bersalah ia menyalahkan apa yang sudah menjadi pilihan. Katanya, ketimbang habiskan uang jutaan untuk daftar ulang, mending beli motor, jelas, dn ada barangnya. *tepok jidat 1000 kali*.

Apapun, ini menjadikan saya tertantang, menjadikan saya lebih tegas dalam berprinsip. Apapun, 34 tahun menjadi titik awal anak menagih dan menuntut pertanggung jawaban saya sebagai kepala keluarga. 34 tahun, menjadi awal hidup itu keras dan harus tegas!

So, thanks akang, teteh, adik, guru, sahabat untuk ucapan dan doa-doa hebat untuk saya. Tuhan ada, Tuhan ora sare, dan Dia akan mengabulkan dan mendengar panjatan doa baik.

—-
kau tampar bangkitkan aku, Getsa! Jangan takut untuk hidup, sepanjang kopi hitam ini masih memberi rasa manis!!!