cpns, hak angket dan kopi hitam

Subang sepertinya tidak pernah sepi dari pemberitaan. Secara berurut-urut Subang dari mulai banjir hebat yg merendam 17 Kecamatan, jalan rusak akibat banjir, dan terakhir yg masih in adalah soal pengumuman kelulusan hasil test calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Kemenpan secara resmi, melalui websitenya, mengumumkan hasil test CPNS. Dan jumlah yang lulus dari Subang lebih dari 1.000 orang, yang sekaligus memposisikan Subang sebagai daerah terbanyak yang lulus.

Jumlah kelulusan itu yang kini rame jadi “gosip”. Jumlah sebanyak itu disebut-sebut jumlah yang tidak diinginkan, karena yang dibutuhkan hanya 400 orang. Dalam pemberitaan media, baik Bupati dan Ketua DPRD sepakat menolak hasil itu. Alasannya: SUBANG BISA BANGKRUT.

Secara kemampuan APBD, tentu saja soal gaji PNS akan membebani. Saat ini saja, dengan jumlah sekitar 14.000, dari APBD 2014 sebesar Rp1.7 triliun itu 70% untuk belanjah pegawai. Bagaimana jika kemudian ditambah lebih dari 1000 PNS?

Untuk alasan itu saya sepakat. Apalagi PR yang harus dibenahi pemkab, tidak sedikit. Yang mencolok di depan mata adalah soal jalan rusak. Yang dikhawatirkan, dengan jumlah yg cukup besar, akan berdampak pada program pembangunan. Terlebih keberadaan 1000 lebih PNS baru itu, belum tentu dibutuhkan dengan kebutuhan.

Bola api CPNS ini kemudian meluncur deras sampai ke gdung DPRD. Diantara mereka, mengusulkan akan ambil hak angket. Bahkan mereka akan investigasi soal itu. Bahan bakar hak angket itu, seperti yang muncul di berita adalah “kecurigaan” ada permainan.

Dugaan itu berangkat dari asumsi, jumlah peserta saat uji publik CPNS kategori 2 sebanyak sekitar 6000-an, tapi setelah diverifikasi justru meningkat hingga 7000 lebih. Kata mereka, semakin diperparah kebanyakan yang lulus itu justru bukan dari honorer, kalaupun honorer mereka yang baru mengabdi di bawah lima tahun.

Oke kita kunci dulu alasan itu. Dan di sini saya akan menggunakan logika sederhana dari otak awam. Jika saja saat itu DPRD mengetahui ada permasalahan, pertanyannya kenapa setelah hasil test CPNS mereka baru reaksi, mereka baru mempermasalahkan. Apalagi saat uji publik berlangsung, ada Anggota DPRD yang meninjau ke lokasi.

Jika memang demikian, maka kalau DPRD mencurigai ada “masalah” dengan kelulusan CPNS, maka wajar jika kemudian publik juga mencurigai sikap anggota DPRD. Kalau kemudian, DPRD berkelit mereka mengetahui adanya penambahan jumlah yang menjadi dasar usulan hak angket, maka kita pantas jika mempertanyakan kinerja DPRD. Bukankah tugas melekat DPRD itu adalah pengawasi (legislasi)?

Dalam bahasa awam, dengan melihat tupoksi DPRD yang diantaranya legsilasi itu, maka jika ada “masalah” di eksekutif, itu justru hanya mempertegas fungsi itu tidka berjalan. Artinya, jika dprd berreaksi setelah terjadi, itu bukan pengawasan dan penindakan.

Betapapun demikian, rencana dprd yang hendak usulkan hak angket sudah terlanjur menjadi konsumsi publik. Karena sudah terekspose di media. Artinya, dprd akan semakin tidak punya muka jika rencana itu dibatalkan. Kalaupun sampai hak angket ini berjalan, dari pengamatan saya, dalam dua periode ini, dprd kalau lagi ngambek selalu mengertak dengan senjata pamungkas: HAK Angket. Dan pada saat yang sama, semangat itu hanya anget-anget tai ayam.

Apakah hak angket itu tetap berjalan, kita tunggu dan lihat saja ke depan. Sekaligus, kita menunggu apa yang akan mereka cari dari hak angket itu soal kelulusan CPNS? *masih yakin dengan dasar jumlah uji publik?*

Terlepas jadi atau tidak, saya melihat pelaksanaan test cpns tahun ini adalah pelaksanaan yang paling dahsyat, top markotop, dan ideal serta yang diharapkan (mungkin) sebagian besar peserta. Karena dari obrolan2, ada testimoni salah satu peserta test cpns: saya ga nyangka bisa lolos, padahal saya ga kasih uang seklipun,” katanya.

Alasan lain kenapa test cpns itu paling ideal, karena siapapun yang lulus tidak memandang isi dompet, berapa lama dia pernah ngabdi dan lainnya. Hasil test cpns (mungkin) ditentukan seberapa hebat dan cerdas peserta saat ngisi soal saat ujian….

______________
Beda pendapat itu biasa, seperti kita punya selera beda soal rasa kopi. Selamat ngupi sabtu sore, cuk!