strategi kampanye

sepertinya di semua daerah punya musim dan trend yang sama: baligo para caleg di mana-mana. sudah kletebak, tujuannya: biuar namanya dikenal, biar wajahnya dikenal, biar nomor urut dan nama partainya dikenal, dan terakhir mudah-mudahan ambisinya tercapai. efektifkah?

yups siang ini iseng-iseng kultwit soal itu. entah ada jurig dari negeri mana, tetiba pengen ngemengin soal itu di twitter @annas_nsh. dan berhubunhg mood-nya lagi bagus, jadi saya copaste aja kultwitb soal itu.

1. Alat peraga kampanye dipasang di mana2. Pohon dn gdung jd sasaran. Tata kota jadi kumuh. Akan beda jika mrk dibebasin “kampanye” di media

2. Pasang alat peraga kampanye sembarang, caleg jadi sasaran cacian. Panwas jd tudingan diskriminasi. Beda, klo mrk dibebasin kampanye di media

3. Kampanye di media: tidak bikin kumuh, ga ada fitnah dn cacian kemanapun, dan ramah lingkungan. Soal modal? Namanya juga dagang, ya wajar

4. Caleg banyak uang, konsekwensi ya banyak iklan di media. Cuma modal idealisme? Bikin aja tulisan di blog dn sebar via sosmed, gratis koq

5. Hukum bisnis itu, semakin besar modal, semakin besar juga kesempatan juga dagangannya laku. Politik itu ya bisnis. Kampanye itu promosi

6. Modal para caleg itu, dri obrolan dg mereka, minimal: DPR RI Rp3 miliar, Provinsi: Rp2 miliar dan Kabupaten Rp500 juta

7. Ada yg cuma modal idealisme? Ada! Bagaimana hasilnya? Ya insya Allah hasil suaranya “idealis” lagi. Menang? No comment

8. Kalah di Pileg? Ya biasa, ga usah ngamuk, apalagi masuk RSJ. Kalau menang semua, itu pelanggaran hukum alam.

9. Kalah di Pileg? Ya biasa, woles aja. Seenggaknya dapet pengalaman, senggaknya nambah daftar di CV: bekas caleg partai anu

10. Kalah di pileg itu harus bersyukur, karena kamu tidak dikasih kesempatan untuk berfikir “rampok” uang negara dalam bentuk dalihnya.

11. Kalah di pileg itu harus bersyukur, karena kamu tidak dikasih kesempatan untuk gagahan dn “jual” kekuasaan kesana kemari, secara wakil rakyat cing

12. Kalah di pileg, modal angus, itu biasa cing. Anggap aja lagi dagang dn kios terbakar. Pileg itu kan mirip2 judi. Kalah, ya judi lagi aja

13. Lo menang, ga usah sengak. DPR/DPRD itu outsourching, kontrak kerja 5 taun. Lupa daratan, dan lupain tugas lo. Siap2 dipecat jd wakil rakyat

14. So, mau menang atau kalah, itu pilihan, bukan nasib. Tinggal disesuaikan aja sama modal dn karakter lo, sudah pantaskan kah jd wakil rakyat?

15. Kenapa menang-kalah di pileg itu pilihan bukan nasib, alasan lainnya, karena pileg itu soal seberapa hebat kita “sentuh hati” voter.

16. Menang-kalah itu bukan ditentukan seberapa besar alat kampanye, namanya juga alat jadi itu cuma alat aja bukan garansi.

17. Sekedar nengok 5 tahun ke depan: SBY menang karena kekuatan publikasi. JokoHok pun begitu, gandeng yg punya media. Meski, itu bkn jaminan

18. kebayang, udah usaha, udah mati-matian aja beluma da jaminan menang. apalagi kalo ga usaha, modal dan mati-matian.

_____________________________

selamat nenggtak kopi olosan