Waktu Selamatkan Nyawa Mereka

BfoT3X1CUAE7Gf5Sekitar jam 10.00 wib lonceng sekolah berbunyi. Itu artinya waktu istirahat belajar sudah tiba-tiba. Puluhan siswa, ambil 1000 langkah meninggalkan kelas. Mereka menyerbu kantin sekolah, atau sekedar canda dengan rekannya.

Di kantin sekolah, terlihat puluhan siswa berebut tangan pelayan untuk menyerahkan senilai senilai harga makanan. Sementara di sudut sekolah, dan di bangku-bangku depan kelas secara berkelompok, tampak siswa asik diskusi atau menggosip. Mungkin soal banjir yang merendam 13 kecamatan atau memikirkan pacarnya yang jadi korban banjir.

Di sudut lain, siswa asik dengan bolanya. Saling over dari kaki ke kaki layaknya ronaldo di era keemasannya. Sementara di bawah pohon, ada dua siswa-siswi asik cengkerama. Di tangannya ada sebuah buku. Sepasangan pelajar ini, sepertinya sedang menerapkan “buku ini akun pinjam” iwan fals.

Suasana sekolah ini, cukup beraneka kebahagiaan. Masing-masing siswa sibuk mencipta dunianya sendiri. Termasuk para guru, asik dengan guru lainnya. Entah tukar cerita atau ngobrol soal arisan yang hari minggu dia terima. Apapun aktivitasnya, sejatinya mereka sedang mencipta kebahagiannya sendiri. Kebahagian yang mereka cipta. Karena kebahagiaan sesungguhnya sederhana.

Duar! Mendadak, dua atap bangun sekolah IX ambruk. Suasana sekolah yang semula hidup dan cair mendadak mencekam. Semua mata tertuju ke bangunan ruang kelas yang ambruk. Mulut dan mata mereka sama-sama terbuka. Entah, apa yang ada di benak bereka? Kejadian ambruknya, atau bingung bangunan yang baru tuntas dibenahi pertengahan 2012 lalu, kini sudah ambruk!

Beberapa menit, seperti semuanya diam! Diam seribu bahasa! Mereka baru tersadar saat suara tangis 7 siswa yang terkena sabetan reruntuhan. dua dari 7 siswa bahkan mengeluarkan darah segar dari kepalanya. Kepanikan mulai terjadi. Seperti kepanikan ribuan warga Pamanukan yang meninggalkan rumahnya karena terendam banjir hingga 4 meter.

Masing-masing siswa dan guru langsung menuju lokasi kejadian. Memeriksa apakah ada siswa yang masih terjebak reruntuhan. Padangan mata tampak gesit dan awas melihat pada warna yang serupa dengan seragaman sekolah. Namun beruntung, tak satupun ditemukan, satu siswapun yang berdampak fatal akibat kejadian itu.

Yup! Waktu yang menyelamatkan nyawa puluhan siswa itu! Sulit dibayangkan, jika ambruknya atap sekolah yang terbuat dari baja ringan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Akan berapa mayat yang dievakuasi dari reruntuhan atap ruang sekolah yang baru saja dibangun itu!

Jika itu terjadi, siapa yang bakal disalahkan? Siswa yang ada di kelas? Guru yang buat jadwal istirahat? Baja yang kwalitas anu dengan beban genting tanah? siapa saja bisa saja terjadi. Yang penting jangan salahkan pengawas, proyek, atau lembaga pendidikan. Menyalahkan mereka, bisa jadi kitalah yang salah!

_______
Selamat teguk hitam terakhir