blogger Subang!

Mendadak teringat dengan dua kata ini. Ada romantisme di sana. Romantis bukan berarti Blogger Subang sudah habis, namun romantis betapa indahnya hari-hari itu, antara suka dan duka.Terlahir 2008 lalu, melangkah dari kegelisahan minimnya “subang” Jabar tersesat di rumah gugel. Sebaliknya, Subang Jaya, Malaysia, terlihat riang gembira di sana. Singkat cerita, terkumpul lah pada punggawa sekitar 10 orangan.

Kopdar, bukan lagi barang baru untuk kita. Setiap saat dan waktu kita selalu kopdar. Meski hanya sekedar ngopi, dan habiskan energi untuk ketawa. Agenda tahunan kita adalah halal bihalal dan blogger goes to school. Agenda fenomenal kita adalah menggelar pesantren multi media dengan ratusan siswa di 2010.

Tanpa sadar, kegiatan demi kegiatan, menyatukan kita dalam sebuah rasa yang sama bernama “keluarga” bukan sekedar diikat oleh nama Blogger Subang. Inilah kebanggan terbesar kita. menyatukan banyak orang dari latar belakang berbeda, guru, peneliti, politisisi, praktisi, jurnalis, pedagang, sampai pegawai Bank.

Di balik itu, ada kisah menjurus “digdaya”. Ini terkait dengan anggota blogger Subang yang memposting  tulisannya yang menyentuh wilayah sensitif kantornya (dulu). Ia mengungkap strategi dugaan konspirasi surat sakti.

Kisah-kasih klasik itu, dari suka sampai duka terekam di benak kita, meski tak terulis. Biarlah ini menjadi kisah klasik untuk masa depan. Meskipun, selalau saja ada gairah untuk kita kembali ke alam itu. Maklum saja, di tengah kebutuhan masing-masing, kitapun terjebak dalam rutinistas aktivitas harian.

Bubar kah Blogger Subang? Tidak, blogger Subang abadi. Aktivitas kita tidak akan lepas dar dunia penulisan. tulis terus terus tulis. meskipun untuk kebutuhan dan pangsa pasar yang berbeda, dan sesuaikan dengan dunia kesibukan kita masing-masing.

terakhir, meski sedang “mati suri” dua media cetak datang untuk kepentingan publikasi 2 media tempat mereka kerja, Seputar Indonesia dan Pasundan Ekspres. Dan saat ini, kita hanya haitus…