Doa hebat Kakek Berjengot

Sore itu, tepat di hari lahir saya (kamis), dari arah utara muncul pria usia tua. Wajahnya keriput, kepalanya ditutup topi anyaman, berjenggot putih, dan baju putih beridir di depan teras kostan. Di kedua tangannya, dia membawa karung kecil berisi beras.Spontan, saya yang lagi sibuk “twitteran” tanya apa maksud kedatangannya. Tak jelas apa yang ia katakan, tapi mengisyaratkan, ia berharap belas kasihan.

Seperti yang sudah diikrarkan, jangan menolak siapapun yang datang untuk “meminta” apalagi “memberi” hehe, sore itu langsung saja, mengulurukan Rp5.000. (Alamak masih milih nominal rupiah). Selepas itu, saya kembali kesibukan. Sementara dia tetap beridir yang jaraknya hanya dua meter.

Dari mulutnya, sangat jelas apa yang ia ucapkan. Sangat jelas, ia mendoakan semoga panjang umur, dimudahkan urusan dan mendapatkan rizki. Mendengar doa-doa laki-laki itu, saya berulang kali teriak amien, amien dan amien. Tak beberapa lama, laki-laki itu menghilang dari pandangan saya.

Tidak ada pikir panjang dengan peristiwa itu. Ku anggap itu biasa saja. Karena saya pikir, memberi ketika ada yang meminta adalah biasa. Ikrar ini, yang saya selalu tekankan ke istri dan anak-anak. Karena, dia berani meminta, logikaku, karena mereka butuh. Itu saja.

Singkat cerita, selepas isya, saya cus ke warnet untuk update satu berita. Di warnet, adalah kantor buatku, wajar ga seru kalao cuma beberapa menit saja. Minimal 1 jam. Tapi ya sudhalah waktu itu, saya mendadak harus cepat pulang.

Dab! Sampe di rumah, ada seseorang yang sudah menunggu. Dia teman lama. Yang baru kali itu dia main lagi. saking lamanya, dia tidak tau kalo saya sudah pindah kostan. Beruntung, waktu dia mau BBM, saya melintas. Bercengkeramalah kita. Sayang, dia yang super sibuk. Kopdarpun tidak lebih dari 30 menit.

Sebelum dia pamit, dia menyerahkan 5 lembar uang warna merah, atau Rp500 ribu. Duar!!!

Terpikir, doa-doa singkat laki-laki tua berjenggot itu. Mungkinkan ia datang bagian dari cara Tuhan menguji dengan mengutus malaikat atau Nabi Khidir menjadi seorang pengemis? Atau? Duh, lupa itu bingkisan ga saya minta, seperti pesan seseorang beberapa bulan lalu.

ah, Tuhan memang tidak pernah lupa dengan janjinya. Meskipun ada sesal, kenapa hanya Rp5 ribu yang saya serahkan untuk pria berjenggot itu hehehe… Hemmm semakin yakin dahSyatnya sedekah, besok-besok harus belajar ikhlas dan berani memberikan yang kita punya.

———
Peristiwa ini terjadi di awal mei ini. Sengaja disharing dan mencantumkan nominal mudah-mudahan bisa menginspirasi untu semakin yakin dan gemar kita bersedekah…

——
Ditulis di teras kostan, sambil mikir siapa laki-laki tua berjenggot putih dan pakaian lusuh itu…. #sesalKemudian