Surga di Bawah Telapak Kaki Pengayuh Becak

nasbuk1Jejak Annas kali ini menyambangi beberapa titik di kawasan Subang Kota. Dari mmulai Bioskop Chandra Pujasera, Jl. RA. Kartini, Pasar Inpres, Terminal sampai Wisma Karya.

Tidak sendiri, tapi bersama beberapa temen dari relawan #KZSMsubang. Sekitar jam 22.00 WIB, dengan dua mobil, kita melucur dari mabes ke daerah Pujasera. Sasarannya: berbagi nasi bungkus dari hasil #udunanSedekah donatur lewat #KZSMsubang.

Target operasi tim adalah mereka para tunawisma dan para pejuang keluarga yang masih berkeliaran di atas jam 23.00 WIB. Setelah membagi titik sasaran, kita berpencar dan menelusuri jalanan kota Subang. Setiap kali ada sasaran, tim turun dan menyerahkan nasi bungkus plus uang lelah.

Jejak kaki kali ini, betul-betul membuat kaki tak mampu melangkah, bukan karena capek atau lelah karena keliling jalanan. Tapi banyak pelajaran yang dipetik setiap bertemu dengan sasaran yang ternyata mereka pejuang-pejuang tangguh demi anak istrinya.

Saat jejak langkah terhenti di jalanan pasar inpres ke arah lamer Shinta, mata kita terinstrupsi oleh pemandanga ganjil. Sebuah becak terparkir di samping pemiliknya yang berselimut kain seadanya di emperan sebuah toko.

Saat mencoba membangunkan, ada kekhawatiran dan kecemasan melihat pria yang berselimut sempurna dengan kain berwarna putih dan beralaskan alat seadanya. Saat terbangun, pria dengan kumis tebal itu tampak kaget. Ia pikir kami petugas yang akan menggaruknya dan harus menyiapkan sejumlah dana agar bisa pulang keluarganya.

Dari raut wajahnya, pria itu tampak jelas rasa lelah. Tubuhnya yang dibiarkan terlihat tampak ceking. Saat kami menyodorkan nasi bungkus, ia begitu tampak antusias. Dari mulutnya terdengar beberapa kali ungkapan terimakasih.

“Saya dari Manyingsal. Di sini tidurnya ya seperti ini. Kemarin di daerah sana (tangannya memberi isyarat) dan sekarag tidur di sini,” selorohnya waktu saya tanya kenapa tidur di emperan toko.

Mendengar tutur katanya, mengeja setiap hurufnya, adalah tamparan keras buat saya. Ini cukup untuk menjadi cermin. Ternyata di tengah keserakahan dan ambisi masih ada orang-orang yang dipaksa tidur di emperan dengan menahan rasa lapar entah dari kapan.

Kening dahi saya mengerutkan, isyaratkan betapa luar biasanya pengayuh becak ini. Demi anak dan istrinya, dia mengikhlaskan dirinya dalam kondisi seperti itu: lapar dan tidur seadanya dan dengan tempat sedapatnya.

Demi sebuah tanggung jawab keluarga, dia memilih sebagai pengayuh becak. Buat dia, apapun dan berapapun ia yang ia hasilkan, stempel halal rizki yang ia terima, adalah mutlak. Buat saya, pengayuh becak berusia kisaran 52 tahun itu jauh ebih mulia ketimbang pejabat terhormat pemakan uang rakyat.

“Dari itikadnya, dari semangatnya, dari pengorbanan dan kesabarannya demi anak dan istri, pantas jika surga ada di bawah telapak kakinya” gumam saya sembari meninggalkan si pengayuh becak itu.

* #KZSMsubang adalah komunitas yang menitik beratkan pada sosial-entrepenuer, berbagi dengan anak yatim dan dhuafa adalah nafasnya. Update info follow @KZSMsubang