kesurupan nulis kesetanan

opssiapa bilang, semangat menulis itu hengkang dari Kabupaten Subang? Buktinya, sekumpulan anak-anak muda Subang yang berhimpun di payung Obrolan Penulis Subang (OPS) hadir untuk mengikat budaya menulis di Kabupaten Subang.

Pada Minggu (28/1/2013) belasan anak-anak OPS ini kopdar di RM Bale Desa, Jl. Darmodihardjo. Kopdar kali ini yang keduanya. Kopdar temen-temen OPS ini bukan sembarang kopdar yang menghabiskan menu yang tersaji, tapi ada obrolan soal penulisan. Setiap bulannya ada pemateri di bidangnya.

Pada pertemuan kali ini, OPS hadirkan sastrawati Euis Demprut, GM Pasundan Ekspres Ahmad Fauzi dan ahli hipno Kaka Suminta. Sayangnya, sampe acara mulai, baru Kaka Suminta yang sudah hadir.

Dalam prakata, pa Kaka, menyebut “Menulis Kesurupan atau Kesetanan”. Dan saya tertarik dengan kalimat itu. Penyebutan itu untuk menyederhanakan pemaknaan dan pemahaman Hypnowriting. Dengan kemampuannya di bidang hypno, pa Kaka ini memaparkan soal kekuatan sugest di bawah sadar untuk membuat orang menulis dengan kesetanan.

Entah lagi terhypno atau bukan, pas doi bahas itu, saya malah asyik menulis di blog ini. Soal apa? Ga tau. Mungkin ini karena saya lagi kesurupan menulis kesetanan hehe pokoke menulis selagi punya jari wakakakak…

Buat saya sendiri, untuk menjadi pribadi yang kesurupan menulis dengan kesetanan setidaknya ada beberapa point. Ini menurut pengalaman. Diantaranya:

1. Jadilah anak kecil
Yes, inget waktu balita dulu, waktu orang tua kita kasih barang yang kita mau? Taruhlah kita dihadiahi sepeda. Waktu balita, kadang kita ogah pisah dengan sepeda. Sampe-sampe itu sepeda diajak tidur.

Maksudnya apa, untuk mensuport diri menulis kita ya tulislah di kamar kita, di setiap sudut kamar kita kalimat: Gue Penulis, maka Gue harus menulis… Kebayang kan, mau tidur, bangun tidur, mau ngapain di kamar kita selalu tulisan itu. Tapi kalau blm kesetanan juga, ya dasarnya kita males hehehe

2. Bergabunglah dengan pehobi menulis
Ada adigum, kalo mau bau wangi, ya bertemanlah dengan penjual parpum. Nah menulis juga begitu, kalo mau belajar menulis, ya gabunglah dengan para pehobi penulis atau penulis.

Bukan sekedar gabung atau dekat dengan mereka. Tapi ambillah pelajaran, galilah pengalaman, jadilah dia sebagai pesaing. Kalo tidak, ya kita udah dua kali gebleg hehehe

3. Narsis
Kalo semangat sudah ada, bekal ada, ya tindakan terakhir narsis. Narsis? Yes narsis. Tulisan kita harus dikasih tau ke orang lain. Kasih tau mereka, kalau kita bisa nulis. Eits tapi ga harus dor to dor, atau pake toa masjid. Itu mah jadul, kampungan!

Sekarang udah zamannya digital zack. Ya kita manfaatin web gratis atau blog, banyak koq yang gratisan. Semua tulisan kita publis ke sana. Apapun isinya, dan apapun temanya. Jeder aja di sana.

Nah gimana biar orang datang dan kunjungan ke blog kita. Ya kita sharing ke socialmedia atau blogwalking, alias kita berkunjung ke blog-blog temen lainnya.

Setiap hari harus ada perkembangan. Nah kalo udah puas dengan tulisan kita, ya kita coba kirim ke media. Dijamin tulisan kita ditolak. Kenapa ditolak, biasanya media pengen tau seberapa besar semangat kita menulis. Jadi hayu aja menulis dan kirim sebelum sampe 100 kali.

Nah kalo udah muncul, jangan seneng, tapi harus nangis. Nangis? Ya iya, artinya kita harus lebih giat dan banyak lagi membaca, menganalisa dan menulis. Ini maksudnya, biar setiap tulisan kita dipertanggung jawabkan.

Kalo udah sampe 50 tulisan yang muncul di media, berarti nama kita udah mulai dikenal kan? Narsis bukan? Hehehe. Nah saat itu pula, kita coba nulis buku. Jadi nama besar (ejieh) kita udah dikenal, jadi bisa mempengaruhi penerbit untuk tidak menolak karya kita.

Gampang kan? Coba deh, dahsyatnya…