merdeka, kaukus dan banjir pantura

Jedar jeder suara petir, hujanpun turun, tanah pun basah, kitapun tiarap di bawah selimut. Yes, terakhir ini hujan mulai turun di Subang. Setiap kali masuk musim penghujan, setiap itu juga otakku melayang dan menyambangi daerah pantura.

Memori di medio 2008-an, Subang Utara tenggelam. Sekitar 8 Kecamatan terendam air luapan sungai yang sudah menyempit dan mendangkal. Anak-anak menjerit ketakutan, para lanjut usia digendong ke tempat aman, sementara orang dewasa sibuk menyelamatkan harta, benda dan nyawa dari arus air.

Setelah itu, pemkab dibuat “mabuk kepayang”, Dinsos panik menghitung jumlah korban, dari jml rumah yg terendam, mengukur luas sawah dan tambak yg tergerus air, sampai berapa orang yg mengungsi.

Dinsos cape, tapi masih dibuat stres wartawan yg berondong data-data. Belum lagi “amuk” pengungsi yang memprotes bantuan telat datang. Dinkes, juga dibikin sibuk. Dari ambulan, perawat, peralatan medis sampai obat-obatan disiagakan lokasi banjir.

Seminggu mereka dibuat panik, cape, lelah, dan stres. Setelah itu, mereka menunggu hujan, banjir dan “kepanikan-kepanikan” yang sama, yang sepertinya sudah menjadi budaya tahunan wilayah pantura.

Yes, mereka hanya bertugas insidental, penanganan korban, bukan berfikir kenapa banjir jadi budaya baru. Sementara korban menghitung kerugian, dan berjuang memperbaiki tempat tinggal mereka untuk menghadapi banjir berikutnya. Yes, ini siklus!

Yup, sudahi saja untuk berkhayal pemkab berfikir keras untuk melakukan penanggulangan bencana banjir. Atau berharap banyak kepada para wakil rakyat. Karena, faktanya, banjir setiap kali terjadi dan biang keladinya pendangkalan, penyempitan atau tanggul jebol.

Eh iya, hampir lupa, di tahun 2009, masyarakat pantura nyaris-nyaris dikasih angin segar. Waktu itu sekitar 27 anggota DPRD berhimpun deklarasi “Kaukus Dewan Pantura DPRD Subang”. Acaranya mewah, ada Wagub Dede Yusuf dan anggota DPR RI Linda Megawati.

Waktu Pak Haji Ahmad Rizal berdiri dan berorasi di atas mimbar acara itu, saya merinding haru, bulukuduk dn bulujembut berdiri, waktu dengar orasinya. “Inilah awal kebangkitan pantura, sekaligus akhir dari ratapan pantura” pikirku waktu itu.

Soal kesejahteraan, dan pembangunan infrastuktur pantura, jadi sentimen dan prioritas para anggota dewan terhormat dari Pantura itu. Yes, ini awal kebangkitan, sudahi penderitaan warga pantura, otakku masih kuekueh dengan itu.

Faktanya?, ah sudah lah tak perlu nyari fakta. Tapi keinginan pemekaran pantura (sepertinya) kandas, banjir masih berlangsung,j alanan masih rusak, dan warga tetep makan dari keringat mereka. Tapi ini bukan salah kaukus. Mungkin para kaukus itu lupa, karena jadi anggota dewan itu banyak agenda atas nama rakyat (yg mana).

Nah kembali ke soal laptop, dari pada menunggu ingatan kaukus itu, atau bupati datang dan ninjau lokasi langganan banjir, lalu setelah itu dia bilang: “Saya tidak mau tau, tahun ini harus dibenahi dn jangan lagi ada banjir”, mending kita (eh warga pantura maksudya) menggagas tolak banjir sendiri. Caranya?

Caranya dengerkan pesan pak gurumu ini (hehe). Kita, warga pantura ini harus bikin tim, tim kajian banjir. Lah iya, di pantura itu orang macam apa yang ga ada. Akademisi ada, dokter dan doktor ada, lsm dan insinyur proyek ada, kita duduk bareng bikin tim dan mengkaji. Lah masa untuk dirinya sendiri mati-matian dan sukses nyari duit, kenapa untuk daerahnya sendiri ga edan-edanan.

Jadi begini, tim tolak (bala) banjir ini nantinta mengkaji dan merumuskan, penyebab banjir di pantura itu apa. Kalau misalnya penyebabnya dangkal dan sempit, berarti harus dikeruk dn dilebarkan. Nah kalau karena tanggul yang jebol, yuk kita kaji dimana saja tanggul yang mau jebol. bikin analisas cashflow untuk beli semen, batu dn tetek bengeknya untuk buat itu.

Setelah kajian tuntas, dan dana sudah muncul (eits jangan markup ya, masa buat kampung sendiri aja masih kepikir utk itu hehe), dibikin jadi sayu proposal kajian yang dilengkapi data, tragedi banjir di pantura, kerugian dan lain-lainnya.

lalu, ya lalu mau diapain aja proposal itu bisam termasuk untuk dikenang hehehehe itupun kalo ga mau realisasi. ya proposal itu dikasih ke yang berkuasa. Bisa saja ke bupati, gubernur dan  presiden melalui dkementerian pu atau menteriu apa kek.

Bagus juga untuk cocoba, kirim ke para calon Gubernu atau calon Bupati. kali-kali aja laku. lah mereka butuh suara loh, dibarter aja suara pantura sama proposal. bereskan! daripada dibarter Rp100.000 dan setelah banjir kita kehilangan ratusan bahkan jutaan rupiah.

lempar aja tuh proposal ke mereka. kalau deal, dan si calon jadi ya tongkrongin tuh pendopo, sampe gegeden ngeluarin duit, eh maksudnya kepastian. ga jelas juga, ya datengnya ngajak orang sekecamatan bila perlu 2-3 kecamatan. orang, buruh aja bisa koq hehe

tapi inget, kalo udah cair, jangan berebut hasil, hangan juga disunat, duit itu bukan untuk bancakan tapi untuk obat tolak (bala) banjir. Apalagi berebut proyeknya, lah itu kan nantinya yang ngerjain warga-warga juga, ngapain juga bereut proyek.

Kenapa warga yang ngerjainnya? ya biar merasakan kepemilikanya, alhasil mereka merawat, mereka ga buang sapah sembarangan, mereka akan marah besar ke siapapun yang mau macem-macem ngerusak….

jadi gitu mamang dan bibi. pantura bisa koq, saya sangat percaya jiwa gotong royong pantura jauh leih hebat, sikap kekeluarannya siapa yang meragukan. dan dana itu saya yakin 100 persen bisa, masa untuk pencitraan berani ngeluarin duit ratusan juta sampe milyaran sementara untuk bangun tanggul da normalisasi sungai, inohong ga bisa.

jadi, hayu lur kita bersatu membangun pantura dari tangan kita sendiri, cieee gayanya pret udah kaya politisi. tapi emang serius, jangan nunggu nanti-nanti, sekarang, ya sekarang juga, mumpung momennta tepat….