belajar dari “orang desa”

Malam itu di pelataran kamar kost, pembicaraan mengalir seperti hujan yang tidak pernah memberi aba-aba sebelumnya. Obrolan santai berhenti setelah diinterupsi suara petir yang petanda hujan segera turun.

Seperti biasa, siapapun yang datang ke kostan, selalu saja digiring ke pelataran beratap langit. Nikmat, pikirku, ngobrol ngalor ngidul di tempat tembus batas dengan aroma semerbak melati.Seperti biasa juga, kursi rotan yang disesuaikan dengan jumlah anggota diskusi dan meja putih disusun (tak) rapih. Dengan kopi item yang menebar bau sedap, obrolan mengalir tentang apapun.

Dan malam itu, kedatangan, yang bagi saya sosok hebat, Irman. Hebat, karena dengan konsepnya ia sukses membangun desanya tanpa harus berfikir bantuan dari instansi manapun. Hebat, yang pada akhirnya desa Mandalamekar, binaanya, menjadi laboratorium bagi mahasiswa atau akademisi.

Setelah ngalor ngidul ngobrol, terkuaklah, ternyata kunci konsep pembangunan ala kang Irman, adalah berfikir sederhana, dan komunikasi sederhana. Sederhana, karena ternyata faktor kemunduran pembangunan desa salah satunya berfikir wah, yang sebenarnya dengan sadar pemikiran wah itu sulit dicapai dan di luar kemampuan.

Biasanya, ujung-ujungnya (jika tidak terpenuhi), mencaci, menghujat, dan mencela pemerintah, yang dianggapnya tidak pro rakyat, pro desa, dan atau pro pembangunan. Pola pikir itu ternyata, kata Kang Iman, tidak akan merubah apapun kecuali kita melangkah ke belakang lebih jauh.

“Mending kita menghabiskan energi, dan pemikiran kita untuk bagaimana kita bisa produktif ketimbang berfikir yang sebenarnya mimpi,” kira begitu pesan kang Iman.

Dan faktanya, ternyata, banyak bahkan sangat banyak, kita berharap perubahan dengan menumpang dengan dari karya-karya orang lain. Kita berharap ada kemajuan, dengan hanya berharap kemajuan itu dicipta orang lain. Dan ternyata, kita lebih enjoy meminta dan berharap ketimbang kita mengaktualisasi diri.

Kalau pola pikir itu terpelihara dan terwariskan sampai ke 7 turunan, maka kiyamat lah, maka manjalah generasi kita, maka anak mamahlah era dan setelah kita. Maka ga salah, kalau dikit-dikit kita cuma bisa merengek dan menuntut. Tidak lebih!

Point-nya, kalau diri kita mau berubah ngapain nyuruh orang untuk merubah kita. Kalau kita mau maju, ngapain kita tidak berfikir aktualisasi diri!

———
Makasih Kang Irman, suatu saat, semoga tak ada hujan di anatara kita