titik nol kilometer

Sudah sekitar dua minggu ini, badan berasa ga enak rasa, pandangan kosong ga fokus, otak nge-blank, dan bawannya malas. Diam dan ngayal adalah hobi baru yang entah siapa yang menginisiasi dan siapa pula yang membisikan serta untuk apa.

Efeknya, badan lemas, hidup tidak semangat. Satu waktu, pernah dipaksakan, yang ada kepala pening, dan kunang-kunang. Imbasnya, kerjapun tak maksimal, bahkan amat sangat tidak maksimal. Beban kerjapun, entah, mudah saja diacuhkan dan lenyap bersama berlalunya deadline.

Sadar, sebagai bagian dari awak media: INILAH Group yang dibesarkan dan dimenej secara tim, yang saya alami saat ini tidak sehat untuk tim. Berkaitan dengan hak dan kewajiban, ini akan menimbulkan kecemburuan dan merusak semangat tim.

Adalah kekonyolan dan kedunguan, jika pemenuhan kewajiban yang sangat minim, sementara saya harus menerima hak sama seperti mereka yang berpeluh mengejar narsum di bawah terik dan antara debu jalanan.

Yes, saya sadar. Dan kesadaran ini mengakumulasi pemikiran pada satu keputusan: RESIGN.  Ya, untuk menjaga sportifitas tim, saya harus resign dari INILAH, saya harus melambaikan tangan kepada kawan-kawan satu peluh, satu gelisah sejak INILAHJabar.com 2 tahun silam.

Ini bukan keputusan spontanistas atau emosional. Sebelum mengambil keputusan ini, mengkomunikasikan lebih dulu dengan istri. Sebagai istri, dia mendukung apa yang menjadi keputusan. Dan sebagai sahabat, dia faham saya tau konsekwensi setelah keputusan ini.

Yup! Apapun dan bagaimanapun, harus melepas genggaman dengan orang-orang hebat di INILAH, untuk kembali melangkah dan menelusuri jalan hidup dalam keterasingan, dalam pengharapan…

Salam hormat untuk kang Dindien, DenMul, GinGin, dan Jule, Tq utk bimbingannya… untuk redaktur gaul, ehem, om Ghiok! Awakmu wis mantep tenen dadi redaktur dab! hahaha *tes redaktur, nang jakarta ora iso ta lalina dab!*

Untuk temen-temen di daerah dan di bandung, terimakasih dan maaf kawan, untuk kebersamaan ini… love u all!