sepenggal pesan dari hut subang

Setelah 4 tahun lalu, acara karnaval dalam rangka hari jadi Kabupaten Subang nihil, tahun ini event karnaval kembali digelar. Ribuan warga Subang pun beromantisme.

Ya ada aura beromantis ria warga dengan agenda semacam itu. Kerinduan masyarakat akan hiburan rakyat yang sejak lama terpendam, pada Sabtu (21/4/2012) itu menjadi arena pelampiasan warga.

Ketulusan ratusan bahkan menyentuh angka 1.000 warga yang berpartisifasi terpancar dari kesungguhan mereka dalam berkreasi menghias kendaraan dengan menonjolkan potensi daerahnya.

Kreasi mereka tidak melulu soal potensi, tapi merekapun menyajikan aksi yang menghibur dengan dandanan dan bentuk kreatifitas lainnya. Tidak saja orang dewasa, anak-anak dan warga lanjut usiapun ikut ambil bagian.

Sementara warga lain yang tak berpartisifasi langsung, berjejal di pinggir jalan menyaksikan aneka kreasi dan atraksi. Inilah formasi ideal, ada yang berperan ada juga yang jadi penonton. Meskipun, saya kira, yang mereka lakukan bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk Subang, tanah air dan tanah kelahirannya.

Bagi warga, ketulusan partisifasi itu harus dibeli dengan harga mahal. Mereka mengumpulkan persatuan yang sudah tercecer dan berserak. Namun bagi pemerintah, seharusnya event semacam itu adalah sesuatu yang murah. Tapi faktanya, itu menjadi mahal, karena sulitnya pemerintah memberikan ruang untuk bersekspresi.

Kebutuhan warga tidak neko-neko kepada pemerintah. Warga hanya membutuhkan para pemimpin mereka memberikan lahan, waktu dan kesempatan. Namun minimnya kesempatan itu, kebutuhan yang murah itu menjadi mahal.

Warga hanya menginginkan, dari 360 hari setahun, ada waktu khusus, pemimpinnya itu menjadi rakyat, dan merasakan kegelisahan rakyatnya, betapa mahalnya kesempatan untuk berekspresi!