tangis pertama anak kedua

Jedar suara timpukan batu mahasiswa mengarah ke aparat. Jedor suara tembakan gas air mata polisi ke kerumunan mahasiswa. Jedar-jedor demi rakyat dan atas nama bangsa.

Interupsi, nyanyian, celetukan anggota DPR menggema di gedung wakil rakyat senayan. Sementara di rumah tegang menyaksikan berita di layar kaca. Tegang hasil keputusan paripurna. Cemas beberapa kawan berbaur dengan ribuan demonstran yang dipukul mundur aparat.

Duar, meledak sudah harapan itu. DPR tidak setuju BBM dinaikan pada tanggal yang diinginkan pemerintah. Harga BBM bukan batal naik, tapi menunggu waktu yang tepat, atau setidaknya sampai juli besok.

Kalau betul Juli harga BBM naik, artinya kelahiran anak kedua yang diprediksi di awal Juli itu ditandai dengan kenaikan harga BBM yang secara otomatis (biasanya) diikuti kenaikan harga-harga barang lain.

Tangis pertama sang jagoan (prediksi dokter anak ke 2 ku laki), disambut harga-harga melangit. Tapi percayalah nak, suara pertama yang akan kau dengar bukan suara cacian rencana kenaikan harga BBM itu.

Tapi, percayalah nak, suara adzan dan iqomat ayah yang akan dilantunkan di kuping kanan-kirimu menjadi suara pertama yang kamu dengar sebelum provokasi “perlawanan” itu ayah tanamkan.

Tapi, percayalah nak, bukan koran lusuh dan daun layu yang menjadi pakaian saat kamu terlahir. Meski dalam kepasrahan atas pemiskinan, kamu adalah buah hatiku yang harus ayah perjuangkan.

Dan, saat kamu besar nanti, bukan harta berlimpah yang akan ayah ajarkan. Tapi tabah dan berusaha yang akan ditiupkan dalam ubun-ubun untuk kamu alirkan di setiap peredaran darah…

J