sekali ini saja, maafkan…

Dab! Siang ini cerita klasik itu kembali terulang. Anak semata wayangku, Getsa mengejar pedagang es keliling dengan sepeda. Ambisinya, tentu bisa menikmati es (yang mungkin) seger, apalagi disantap saat siang hari (yang kebetulan cuaca saat itu) lumayan panas.

Ini berawal, di tengah kegalauan Senin (16/1/2012) siang. Di antara kebingungan tuntutan kebutuhan logistik yang bukan saja menepis tapi sudah minus. Sepulang dari santap nasi timbel hasil “sabetan” di kantin DPRD, mengajak anak istri untuk jalan entah kemana.

Tujuannya satu, mengusir kepenatan detik yang selalu menuntut dan barangkali malaikat pembawa berkah datang. Tibalah di satu sudut tujuan, saya dan istri enjoying dengan bb yang ada di genggaman. Secara samar-samar, ada suara tet roet pedagang es (ice cream) keliling kampung pakai sepeda.

Tanpa dinyana, Getsa teriak merengek meminta es itu. Duh, “teror” sadis itu datang. Sulit untuk berdiplomasi dan berdamai dengan keadaan. Getsa tak peduli dengan kondisi “kepanikan” orang tuanya melongok melihat tingkahnya mengejar tukang es keliling.

Suaranya serak sambil memanggil “mang beli, mang”. Pedagang es tak menggubris panggilan Getsa. Entah karena tau ortunya tak memiliki sepeserpun, atau panggilan bocah seperti Getsa bukan prioritas pasaran es yang dibawanya.

Ada tangis yang keluar dari mulutnya, sambil kembali ke titik saya berdiri dengan masih merengek bermohon. Ada segurat air mata yang sudah kadung menggelayut di kelopak mata saya yang seharusnya meleleh.

Memeluknya erat dengan pilu. Dengan suara yang terlanjur tertahan, berusaha melakukan black campaign tentang es yang diharapkan sambil memberi janji-jani surga.

Beruntung, pemahaman sederhana itu bisa mengalahkan ambisinya untuk mendapatkan es impiannya itu. Sesegera merusak ingatannya ke es keliling itu dengan memindahkan perhatiannya.

Sukses, memang. Tapi itu menambah daftar kegagalan saya di depan anak semata wayang ini. Tidak saja gagal mengabulkan permintan es, tapi bertubi-tubi mengelabuinya dengan berbagai cara untuk menutupi kelemahan figur orang tua.

Maafkan ayah, sayang.