menghapus jejak sejarah wisma karya

memotret gedung sejarah wisma karya subang di sore hari, tak ubahnya kita mengunci rapat-rapat cerita klasik tentang wisma karya di era penjajah dulu. mengubur gairah history dengan ambisi atas nama penyelarasan modernisasi kutu kupret…

menelisik wisma karya, artinya kita membuka cakrawala tentang subang doeloe. mengembalikan ingatan kita ratusan mungkin ribuan para kompeni berdansa, memutar film, main bliyar setelah lelah menyelesaikan ambisinya pada hari itu.

mengintip museum kepurbakalaan wisma karya, artinya kita mencoba merangkai cerita yang tercecer dalam setiap benda artepak yang ditemukan warga dari tahun ke tahun menyambung menjadi satu rangkaian sejarah berdirinya subang.

dan mempelajari wisma karya dan isinya, adalah kita belajar menghargai jasa-jasa orang tua kita yang babak belur dan mati-matian merebut kemerdekaan indonesia.

sayangnya, wajah wisma karya hari ini bukan lagi menjadi buku sejarah yang seharusnya menjadi sumber inspirasi atau setidaknya mengingatkan tentang sejarah. wajah wisma karya hari ini tak ubahnya lembaran koran yang dibutuhkan hanya beberapa jam setelah itu berserakan, tercampakkan tanpa penghargaan.

tak ada lagi sejarah, tak ada lagi rangkaian cerita. yang ada adalah kisah betapa indahnya era modernisasi yang teramat sayang dilupakan. pelataran menjadi sumber mata pencaharian, dan sekitarnya jadi ajang berpadu kasih sepasang yang sedang pacaran.

tidak ada yang salah dengan apapun pemanfaatan wisma karya saat ini, apalagi orientasinya untuk “mensejahterakan” dan kemajuan zaman. namun akan menjadi miris jika pada saat yang sama terjadi penisbian atas sejarah, mengaburkan kesejarahan.

Hemm jadi intinya (lama-lama puyeng juga nulis dg bahasa itu), di wisma karya itu, kegiatan yang lain boleh saja ada, tapi mbok ya itu museum dihidupkan lagi. tapi mbok ya kegiatan berkala budaya dipentaskan di tempat itu. cenah jas merah!! Cag…. ah

ditulis Minggu, 27.11.2011
sambil nunggu penganugrahan kontes potograpi subang