menelisik tanggal 26 dan bencana dahsyat

Legenda urban bencana tanggal 26 merupakan suatu topik misteri di mana tanggal 26 memiliki arti penting, karena beberapa bencana (terutama gempa bumi) terjadi pada tanggal tersebut. Hal ini menyebabkan tanggal 26 sering disebut-sebut sebagai tanggal musibah atau hal-hal yang berbau bencana. Namun semua itu sebenarnya hanyalah sekadar ramalan atau kepercayaan orang biasa saja.


Jika melihat ke belakang, di tanggal yang sama terjadi peristiwa alam mengerikan dan banyak memakan korban yang terjadi di Indonesia. Dari peristiwa Tsunami di Aceh hingga robohnya jembatan Tenggarong di Kutai Kertanegara.

Secara rinci peristiwa di tanggal 26 itu, adalah sebagai berikut:

26 Desember 1979, gempa bumi di Carlisle, Inggris
26 April 1981, gempa bumi di Westmorland, AS
26 Mei 1983, gempa bumi di Nihonkai, Chubu, Jepang
26 Januari 1985, gempa bumi di Mendoza, Argentina
26 Januari 1986, gempa bumi di Tres Pinos, AS
26 April 1992, gempa bumi di Cape Mendocino, California, AS
26 Oktober 1997, gempa bumi di Italia
26 Desember 2004: Tsunami di Aceh 26 Mei 2006: Gempa Jogjakarta
26 juni 2010: Tasik gempa
26 Oktober 2010: Tsunami Mentawai dan Merapi meletus
26 februari 2011: Jepang gempa & Tsunami
26 November 2011: jembatan Tenggarong roboh

Itu baru sebagian, belum lagi yang terjadi di belahan dunia. Pertanyannya, kenapa selalu tanggal 26?

Pada Alkitab, Hagai 2:6 tertulis “Sebab beginilah firman Tuhan semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat”

Pada Alquran, surat Al Baqarah (surat ke-2 dalam Al-Quran) ayat 6 (bila digabung menjadi 26) tertulis “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman”

Sekedar mengambil pelajaran, dan tak perlu berfikir hanya sekedar pencocokan, tragedi itu patut menjadi pelajaran berharga buat ummat manusia. Karena kapanpun musibah pasti terjadi, dan kematian adalah janji Tuhan yang tak bisa dihindari, tak kurang dan tak lebih meski sedetikpun.

Penting untuk interospeksi, guna meminimalisasi prilaku negatif dan meningkatkan amal baik. Karena bisa jadi besok atau lusa, bahkan setelah membaca tulisan ini kita mati. Dan aktivitas yang baru saja dilakukan adalah yang terakhir kalinya. Wallahu a’alam bishawab.