Geliat Panti Pijat Plus-plus (4)

Menjadi wanita pemijat plus bukanlah menjadi cita-cita Reni (20) ketika kecil. Anak dari buruh di Tanjung Priok ini mengaku dia menjadi pemijat plus karena dendam dengan pria yang pernah menjadi kekasihnya.

Reni mengaku pernah berpacaran dengan seorang pria bernama Eko. Namun, setelah Eko merenggut keperawannya. Dia meninggalkan wanita yang pernah bekerja sebagai sales promotion girl (SPG) selama setahun ini.

Bekerja sebagai SPG tidak mencukup kebutuhan keluarganya. Apalagi kedua orangtuanya hanya bekerja sebagai buruh di Tanjung Priok.

Dia pun mencoba melamar menjadi pemijat di salah satu tempat pijat di kawasan Jakarta Barat. “Awalnya sih canggung bekerja kayak gini. Banyak tamu iseng yang mau ngajakin ML (ngeseks),” katanya.

Namun, lama-kelamaan dia menikmati saja karena dia mendapatkan 20 persen dari ongkos pijat. Belum lagi jika ditambah dengan tips dari pengunjung yang berbaik hati.

Saat ini dia menjalin asmara dengan pria Tionghoa bernama Robert. Pria keturunan ini tidak mempermasalahkan pekerjaannya sebagai pemijat. “Koko orangnya baik,” ujarnya.

Beda Reni, beda juga Dini. Wanita cantik berambut panjang dengan tinggi 170 cm ini mengaku berasal dari Subang Jawa Barat. Wanita yang sudah hilang keperawannya sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini mengaku awalnya berniat mengadu nasib dengan bekerja di Jakarta.

Dengan bekal uang dan restu dari orangtuanya, dia pun berangkat ke Jakarta. Namun, bukan pekerjaan enak yang diterimanya. Dia malah terjerumus menjadi seorang wanita pemijat plus. “Apa boleh buat Mas. Aku hanya tamatan SMP. Boro-boro buat kerja kantoran, di (penjaga) toko saja aku enggak diterima,” ujarnya.